OUR DREAM IN KOLN CITY
Waktu
menunjukkan pukul 09.29 waktu setempat. Hari yang cerah untuk bersantai di
taman Campus. Para mahasiswa terlihat senang akan hari ini, karena sebentar
lagi mereka akan wisuda. Terlihat seorang mahasiswi berjalan menuju kantor
Campus dengan bawaan yang cukup…
“Aduh… berat berat banget nih, kenapa
Pak Jo pake nyuruh-nyuruh bawa ni tabung kertas sih… kan susah”.
“Hey, Rice… pagi-pagi kenapa
cemberutan gitu sih?”
“Oh, hey Brun… tidak kenapa-kenapa,
hanya tugas yang merepotkan saja yang harus ku antar sekarang”
“Ough… gitu. Mau kubantu gak?”
“Boleh juga…”
“Oh iya, Rice, kamu jadi kuliah di
Frankfurt?”
“Mungkin jadi kalau aku berhasil
lulus tes melukis ini… memang gak mudah. Tapi ya aku berusaha juga sih”
Beberapa saat, pengalaman Campusku
ini menyenangkan dan sangat kusukai. Tapi itu jauh sebelum hari itu datang.
Pengalaman dimana semangatku terpuruk di dalam gelapnya. Pria itu, apakah kami
akan bertemu lagi suatu hari nanti?
Kurasa, aku akan menemukannya. Apa
dia masih mengingatku? Kejadian hari itu… tak mungkin bisa kuperbaiki. Hingga
saat itu tiba…
Tunggu aku…
“Rice… Rice… aku ngomong dari tadi
malah dikacangin… emang enak apa dikacangin…”
“Uh? Maaf Na, Ku ngelamun sorry ya”
“Tuh, Pak Her baru ngantar makanan…
keburu dingin tuh”
“Oh… iya…iya…”
------OUR DREAM------
Bulan menyinari malam yang dingin…
melengkapi semua kegelisahan.
Arice membuka jendela, angin yang
dingin mengibaskan kerudungnya.
lampu-lampu kota terlihat dengan jelas dari kamarnya di lantai dua. Berusaha mengingat pemandangan sekitar, menyimpan semua memori. Tidak terasa sudah lewat satu semester. Tapi hatinya masih belum tenang memikirkan apakah ia akan lulus tes melukis itu atau tidak. Ia sangat menginginkan kuliah di Frankfurt University, German. Di sana ada jurusan kesenian, karena itulah ia khawatir akan hasil lukisannya.
lampu-lampu kota terlihat dengan jelas dari kamarnya di lantai dua. Berusaha mengingat pemandangan sekitar, menyimpan semua memori. Tidak terasa sudah lewat satu semester. Tapi hatinya masih belum tenang memikirkan apakah ia akan lulus tes melukis itu atau tidak. Ia sangat menginginkan kuliah di Frankfurt University, German. Di sana ada jurusan kesenian, karena itulah ia khawatir akan hasil lukisannya.
Kring…kring…
Suara telefon berdering memecah kesunyian. Arice mengangkat telefon dengan langkah gontai dikerenakan dari pagi tadi dia belum bisa menikmati lelah di atas kursi. Serak-serak suara berat terdengar di seberang telefon, mengejutkan Arice yang saat itu dalam kondisi setengah sadar. Pak Jo, beliaulah yang menelefon Arice malam-malam begini.
Suara telefon berdering memecah kesunyian. Arice mengangkat telefon dengan langkah gontai dikerenakan dari pagi tadi dia belum bisa menikmati lelah di atas kursi. Serak-serak suara berat terdengar di seberang telefon, mengejutkan Arice yang saat itu dalam kondisi setengah sadar. Pak Jo, beliaulah yang menelefon Arice malam-malam begini.
“Halo, dengan keluarga Brunhilde…
dengan siapa berbicara?”
“Selamat malam maaf mengganggu. Saya
Pak Jo guru campus Arice. Apa saudari Arice ada?”
“Pak Jo?! Malam pak… maaf pak, saya
Arice… ada apa ya pak?”
“Bapak mau kasih informasi saja ke
kamu tentang hasil lukisanmu. Kamu lolos, selamat ya Arice, kamu di terima di
Universitas Frankfurt. Nanti daftar ulangnya disana, satu bulan dari sekarang”
Deg!! Arice hampir kehilangan
jantungnya mendengar hal tersebut. Bahagia yang luar biasa karena kerja
kerasnya selama ini tidak sia-sia.
“Terimakasih banyak pak
informasinya.”
“Iya, kamu jaga diri di sana, jangan
lupa kabari bapak”
“Itu pasti pak”
Pembicaraan terakhir menutup
percakapan keduanya ditelefon. Rasa syukur yang sangat luar biasa sangat
dirasakan olehnya. Air mata kebahagiaan keluar begitu saja dari matanya. Arice berlari
kedapur menemui sang bunda untuk memberi tahu kabar gembira yang baru saja
diterimanya. Tuhan telah melihat usahanya dan melihat usaha Arice. Menakjubkan
bukan… mendapati apa yang kau usahakan membuahkan hasil yang sangat memuaskan.
“Bunda, Arice diterima di Frankfurt
University Bun….” Teriak Arice kegirangan dan langsung memeluk bundanya.
Bundanya yang saat itu sedang
membersihkan dapur, terkejut mendengar teriakan dan pelukan Arice yang
tiba-tiba.
“ Syukurlah… Apa ayah sudah
diberitahu?”
“Belum bu, ini mau ngasih tau ayah,
sekalian sama Bruna juga”
Arice langsung berlari ke lantai dua
menuju kamar Ayahnya, Ayahnya yang sedang bekerja kaget akan kedatangan anaknya
yang langsung membuka pintu kamar.
Tidak berlama-lama, Arice langsung
memberitahu kabar gembira tersebut kepada ayahnya, ayahnya merasa sangat
bersyukur sekaligus bangga dengan anaknya yang dianugerahi bakat melukis itu.
Karena melalui bakat itu, anaknya bisa diterima di Universitas yang diharapkan
anaknya. Sang ayah langsung memeluk Arice dan mengatakan bahwa ia sangat bangga
mempunyai anak seperti Arice, begitu juga dengan Arice, ia mengatakn bahwa
ayahnya adalah ayah terhebat di dunia yang selalu mendukung semua usaha dan
impiannya dari kecil.
Setelah selesai berbicara dengan
ayah, Arice langsung menelefon Bruna untuk memberitahu kabar tersebut. Tentu
saja sahabatnya ikut senang walaupun sebenarnya sebentar lagi mereka akan
dipisahkan antara jarak dan waktu.
“Syukurlah kamu diterima Rice. Ak
seneng banget kamu bisa diterima di sana”
‘’Iya Brun, usahaku ga sia-sia… tapi,
kita bakalan pisah Brun…”
“Iya aku tahu, pasti bakalan sedih
nantinya. Tapi itukan yang terbaik buat kamu mencapai cita-citamu, kita juga
bisa ketemuan pas liburan”
“Iya deh… kalau gitu, besok kayak
biasa ya di Café seberang”
“Oke…”
------OUR DREAM------
Matahari pagi mulai menempakkan jati
dirinya… embun-embun membasahi alam, hewan pagi keluar mencari makanan untuk
keluarganya…terlihat Arice sedang sibuk memilih pakaian yang pas untuk
dikenakan ke café,
Baju ini? Bukan… ini? Duh, norak…
kalau ini? Rombeng amat…
Arice menggerutu sendiri, dia bingung
harus mengenakan baju apa. Semua baju dikeluarkannya, dipilah-pilah, dilihat
kecocokannya dengan suasana hari ini. Tidak ada yang cocok menurutnya. Sampai
dia menemukan salah satu baju lamanya.
Inikan… yang waktu itu…
Baju blouse wana cream pemberian
temannya dulu, masih tersimpan dengan baik di lemarinya. Tangannya meraba baju
tersebut sembari mencoba mengingat semua kenangannya dengan si pemberi itu.
Terasa lama, bahkan sangat lama. Sampai-sampai rasanya seperti ingin menelan
seluruh air laut dan memuntahkannya. Tidak lama untuk meneteskan air mata, air
mata kerinduan yang terkadang membuat hati terasa seperti diiris dengan silet.
Sakit ya memang sakit. Itulah cinta pertama, membuat hati merasa hangat saat
bersama, lalu beku setelah kehilangannya.
Pintu café dibukanya dengan perlahan,
tampak suasana café yang masih sepi karena masih jam 08.30wib. aroma kopi
langsung tercium, jejeran kue tart selalu menghiasi café itu. Terlihat
seseorang di ujung café melambaikan tangannya sambil memanggil-manggil namanya.
“Rice, sini…sini!”
“Ough… iya Bruna”
Arice melangkah menuju keaarah tempat
duduk Bruna. Terlihat secangkir Moccachino dan piring kue dengan kue yang
bentuknya sudah tidak sempurna.
“Hai Brun”
“Hai…”
Arice menempati kursi dihadapan
Bruna. Tidak lama pelayan café datang menanyakan pesanan.
“Mau pesan apa, Mbak?”
“Satu chocolate latte extra susu dan
kue tart rasa lemon”
“Segera dihantar”
Pelayan tersebut meninggalkan meja
mereka. Percakapan pun terjadi diantara mereka. Banyak hal yang keduanya
diskusikan, mulai dari planning traveling, tugas susulan, kerja sampingan,
kegiatan yang ingin dilakukan hari itu, dan expecially wanita, kalau sudah
bertemu mereka akan membahas topic utama, yaitu tipe cowok.
to be continued...
Komentar
Posting Komentar